Dikabarkan
oleh Kepala Seksi Penerangan Hukum atau Kasi Penkum Kejati Sumsel, Vanny Yulia
Eka Sari, S.H., M.H melalui Siaran Pers Nomor: PR-42/L.6.2/Kph.2/11/2025 bahwa
WS menjadi tersangka keenam menyusul 5 (lima) tersangka yang telah dilakukan
penahanan di rutan.
"Untuk
kelima tersangka lainnya sudah dilakukan tindakan penahanan selama 20 hari
terhitung dari tanggal 10 November 2025 sampai dengan tanggal 29 November 2025,
sedangkan tersangka WS selaku Direktur di PT. BSS periode Tahun 2016 s.d.
sekarang dan Direktur PT. SAL periode Tahun 2011 s.d. sekarang, tidak bisa
hadir karena sedang dalam perawatan di salah satu rumah sakit (sudah dua kali
tidak hadir memenuhi surat panggilan Tim Penyidik Kejati Sumsel untuk dilakukan
pemeriksaan sebagai saksi)," papar Kasi Penkum.
WS
baru bisa memenuhi panggilan Tim Penyidik Kejati Sumsel pada hari Senin tanggal
17 November 2025 untuk diperiksa sebagai tersangka.
"Kemudian
pada hari ini Senin, tanggal 17 November 2025, Tersangka WS hadir di Kejati
Sumsel memenuhi surat panggilan Tim Penyidik Kejati Sumsel untuk dilakukan
pemeriksaan sebagai Tersangka. Selanjutnya Tersangka WS dilakukan pemeriksaan
oleh Tim Penyidik Kejati Sumsel dan dilakukan tindakan penahanan berdasarkan
Surat Perintah Penahanan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan tanggal 17
November 2025, selama 20 hari terhitung tanggal 17 November 2025 sampai dengan
06 Desember 2025 di Rumah Tahanan Negara Klas 1 Pakjo Palembang," tambah
Kasi Penkum.
Peran
tersangka WS manurut Kasi Penkum antara lain :
1. Mempunyai otoritas penuh dalam hal
pengeluaran dana untuk pengurusan Hak Guna Usaha atau HGU dan Hak Guna Bangunan
atau HGB;
2. Sebagai Direktur di PT. BSS dan PT.
SAL, yang menandatangani pengajuan pinjaman ke salah satu bank plat merah.
Adapun
Estimasi Nilai Kerugian Negara sebesar Rp1.689.477.492.983,74 (satu triliun
enam ratus delapan puluh sembilan miliar empat ratus tujuh puluh tujuh juta
empat ratus sembilan puluh dua ribu sembilan ratus delapan puluh tiga rupiah
tujuh puluh empat sen) dikurangi dengan nilai asset yang telah dilakukan
pelelangan dan sudah disita oleh penyidik yakni senilai Rp. 506.150.000.000
(lima ratus enam miliar serataus lima puluh juta rupiah). Maka dari pengurangan
nilai di atas Estimasi Kerugian Negara sebesar Rp1.183.327.492.983,74 (satu
triliun seratus delapan puluh tiga miliar tiga ratus dua puluh tujuh juta empat
ratus sembilan puluh dua ribu sembilan ratus delapan puluh tiga rupiah tujuh
puluh empat sen).
Adapun
modus operandi dugaan kasus Tipikor tersebut pada tahun 2011 PT. BSS melalui WS
selaku Direktur mengajukan permohonan kredit investasi kebun inti dan plasma
atas nama PT. BSS berdasarkan Surat Permohonan Nomor: 311/BSS/FRPI/VII/2011
sebesar Rp760.856.000.000. Selanjutnya PT SAL pada tahun 2013 dengan manajemen
WS mengajukan permohonan kembali kepada Kantor Pusat Bank Plat Merah Jakarta
Pusat dengan Surat Nomor: 01/PT.SAL/DIRYT/V/2013 tanggal 28 Mei 2013 perihal
Permohonan Kredit Investasi Pembangunan Kebun Kelapa Sawit Inti dan Plasma
Rp677.000.000.000,-. Dalam proses pelaksanaan di lapangan Direktur Utama PT.
BSS yang aktif melakukan sosialisasi ke petani plasma dan juga berhubungan
langsung dengan instansi terkait untuk memperlancar proses permohonan pengajuan
pinjaman kredit tersebut.
[20.56, 27/3/2026] Gunadi 696: Pada saat pengajuan kredit, permohonan tersebut diajukan kepada Divisi Agribisnis salah satu bank plat merah, selanjutnya ditugaskan tim yang melakukan penilaian, syarat kelayakan pengajuan kredit dimaksud telah melakukan kesalahan dalam hal memasukan fakta & data yang tidak benar dalam memorandum analisa kredit sehingga menyebabkan pemberian kredit tersebut bermasalah seperti syarat agunan, pencairan plasma dan kegiatan Pembangunan kebun yang tidak sesuai tujuan pemberian kredit. Selanjutnya PT SAL dan PT BSS juga mendapatkan fasilitas kredit Pembangunan Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) dan Kredit modal Kerja dengan rincian:Total Plafond PT SAL sebesar Rp862.250.000.000,- Total Plafond PT BSS sebesar Rp900.666.000.000,-. Maka akibat perbuatan tersebut terhadap fasilitas pinjaman kredit tersebut saat ini mengalami kolektabilitas 5 alias macet.
Pada
saat pengajuan kredit, permohonan tersebut diajukan kepada Divisi Agribisnis
salah satu bank plat merah, selanjutnya ditugaskan tim yang melakukan
penilaian, syarat kelayakan pengajuan kredit dimaksud telah melakukan kesalahan
dalam hal memasukan fakta & data yang tidak benar dalam memorandum analisa
kredit sehingga menyebabkan pemberian kredit tersebut bermasalah seperti syarat
agunan, pencairan plasma dan kegiatan Pembangunan kebun yang tidak sesuai
tujuan pemberian kredit. Selanjutnya PT SAL dan PT BSS juga mendapatkan
fasilitas kredit Pembangunan Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) dan Kredit modal
Kerja dengan rincian:
Total Plafond PT SAL sebesar Rp862.250.000.000,-Total Plafond PT BSS sebesar Rp900.666.000.000,-. Maka akibat perbuatan tersebut terhadap fasilitas pinjaman kredit tersebut saat ini mengalami kolektabilitas 5 alias macet.
Perbuatan
WS bersama 5 (lima) tersangka lainnya melanggar :
Primair
: Pasal 2 Ayat (1) jo. Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah
dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang perubahan atas Undang-undang
Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55
Ayat (1) Ke-1 KUHPidana Jo. Pasal 64 KUHPidana;
Subsidair
:
Pasal
3 Jo. Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor
20 Tahun 2001 Tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHPidana Jo.
Pasal 64 KUHPidana. (Luky,/Sp-kjtiSumsel).
.jpeg)


0 Komentar